Berita Terbaru

Jelang Puasa, Dahlan Nyekar di Takeran

Di unggah oleh Unknown pada Kamis, 19 Juli 2012 | 21.48

MAGETAN - Jelang Ramadan, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyambangi kampung halamannya di Magetan, Rabu (18/7) malam kemarin. Di Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Takeran, Dahlan Iskan berada dalam suasana nostalgia bersama keluarga besar pesantren.

Tradisi nyekar yang rutin dilakukan menjelang bulan puasa, dilakukan di makam pendiri PSM yakni Kiai Ageng Hasan Ulama. Di kompleks pemakaman itu, juga terdapat makam ayahanda Dahlan Iskan, yakni Moch. Iskan. Menurut Dahlan, tradisi nyekar rutin dilakukan. "Yang tidak saya lupa, dulu tiap pagi nyapu halaman pesantren ini. Utamanya saat puasa," ujar Dahlan kepada Radar Madiun (Grup JPNN).


Menjelang Ramadan tahun ini, Dahlan pun mengaku tak lupa dengan tradisi megengan alias tasyakuran. "Dan syukur, malam ini saya bisa berkumpul bareng keluarga besar," tambahnya.


Di PSM, Dahlan disambut hangat kerabatnya. Usai jamuan makan malam dan salat Isya, Dahlan nyekar di makam Kiai Ageng Hasan Ulama.


Sebelum nyekar, Dahlan Iskan sempat bernostalgia dengan melihat kamar masa kecilnya di kompleks PSM. "Dulu saya tidur di sini (sambil menunjuk lantai, Red), tanpa tikar. Dua tahun saya di sini," ungkapnya.


Kedatangan Dahlan Iskan juga disambut hangat sejumlah kepala sekolah di lingkup PSM se-Magetan. Kesederhanaan menteri kelahiran Tegalarum, Bendo, Magetan itu, terlihat saat menyapa santri yang tengah berlatih rebana.


Miratul Mukminin, pimpinan PSM Takeran mengatakan, dari sisi sejarah, Dahlan Iskan tak bisa jauh dari sisi religius, utamanya tradisi jelang puasa. "Kebetulan malam ini (kemarin, Red) ada kegiatan di Solo dilanjutkan nyekar ke Takeran," ujarnya.
(wka/irw)

Sumber : Jppn.com


Hisjam: Saya Ingin Mengembalikan Kejayaan Magetan

Magetan - Bursa Pemilukada Magetan 2013 besok dipastikan akan lebih ramai lagi. Salah satu tokoh Magetan, Hisjam Rosidi akan ikut dalam bursa pencalonan bupati Magetan. “Saya ingin membangun Magetan,” kata Hisjam.

Tokoh Magetan yang saat ini berdinas di Pemkab Sidoarjo ini, ingin mengembalikan kejayaan Magetan dulu di era 1987, saat ia berdinas di Pemkab Magetan. “Dulu saya berada di Kabag Kepegawaian di Magetan, ada ratusan warga yang potensial yang kami angkat jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), tanpa membayar satu rupiah pun,” ujar tokoh asli Magetan itu.

­­­Saat itu, kata dia, banyak penghargaan yang diraih Magetan. Salah satunya adalah meraih Adipura Kencana selama 5 kali berturut-turut. Hingga akhirnya, ia pindah ke Sidoarjo. Di Sidoarjo, Hisjam sempat menempati jabatan penting, seperti Kepala Bagian Ketertiban Pemkab Sidoarjo, Kabag Pembangunan, serta Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja. Saat ini ia menjadi staf ahli pemerintahan.

Ada banyak konsep yang diterapkan kalau ia dipercaya menjadi Bupati Magetan. “Magetan ini berpotensi, cuman harus ada konsep pembangunan yang jelas, dan mempunyai jaringan bagus dengan pusat, sehingga pembangunan di Magetan bisa berjalan bagus,”kata dia.

Kesejahteraan masyarakat, pelayanan kesehatan menjadi fokus utamanya. “Salah satunya harus ada konsep jelas untuk mengurangi pengangguran di Magetan, seperti ada balai latihan kerja, dan lainnya,” terang pria yang tinggal di Jl. Gitadini Magetan itu.

Hisjam berencana akan lewat partai Golkar. Partai berlambang beringin itu dinilai sebagai partai yang konsisten untuk kesejahteraan rakyat. “Mekanisme partai saya ikuti, untuk mendapatkan rekomendasi Partai, kalaupun nanti ada yang lebih pantas dari, saya menerima,” ungkapnya. ram

Awas, Gendam Jelang Puasa

Magetan - Suhadi Handoko, warga Desa Bungkuk, Parang Magetan, masih terlihat lesu. Pemilik foto copy dan beberapa alat sekolah yang berada di Madrasah Ibtidaiyah Al-Jariyah Bungkuk ini menjadi korban penipuan dengan gendam. Uang yang ada di toko miliknya sebesar Rp 4 juta amblas.

Hadi menceritakan, Selasa siang kemarin, ada seorang laki-kali yang mengaku bernama Arif menanyakan lem fox kering. “Saya jawab tidak ada, terus dia bilang mau pesan sebanyak 40 bungkus,” kata Hadi Rabu (18/07). Ia juga sempat meninggalkan Nomor Handphone, dan mengatakan bahwa harga lem adalah Rp 450ribu per-bungkus.

Selang tiga jam kemudian, dating rombongan sales alat-alat sekolah dengan membawa sebuah mobil warna hitam. “Spontan saya tanya lem fox kering itu, dan dia bilang ada, harganya Rp 400 ribu perbungkus,” lanjutnya.

Karena tidak mempunyai banyak uang, ia hanya membeli 10 box. “Pada waktu itu sebenarnya saya mau beli 40 bungkus, untungnya mau pinjam uang kemana-mana gak ada,” kata dia. Selanjutnya, ia menghubungi Arif, yang memesan lem tersebut. “Nomernya masih bisa dihubungi, ngakunya nanti akan ke sini,” ujar Hadi. Orang yang mengaku warga Nglopang itu, tambahnya, juga sempat meminta isi pulsa sebesar Rp 50ribu kepada dirinya.

Selang beberapa jam kemudian, ia baru sadar bahwa ia tertipu. “Saat saya pulang ke rumah saya baru sadar, saya tertipu, karena harga lem itu tidak sampai Rp 400ribu, paling-paling hanya Rp 20ribu per-bungkus,” terang dia.

Di hari yang sama, warung milik Sugiarti yang berjarak sekitar 300 meter dari toko milik Hadi, didatangi seorang pria yang ingin membeli rokok. Setelah dilihat, ternyata uangnya palsu. “Saya kembalikan uangnya, dan saya ambil lagi rokoknya, karena uangnya jelas palsu,” kata Sugiarti. Ia mengaku sempat berdebat dengan calon pembeli itu. Awalnya pria yang membawa sepeda motor itu, mengaku bahwa uangnya asli. “Saya tetap tidak terima, dan saya tegaskan itu uang palsu, hingga akhirnya orang itu pergi,” ujar ibu dua anak ini. ram

Meneruskan Tradisi Larung Sesaji

Magetan—Warga sekitar Telaga Sarangan menggelar ritual Larung Sesaji. Tak hanya para pemilik perahu yang ada di tempat wisata itu, namun seluruh pebisnis seperti pengelola hotel atau penginapan serta perdagangan yang ada di kawasan Telaga Sarangan pun turut berjibaku, Minggu (15/7).

Selain untuk menarik wisatawan, tradisi ini dipercayai untuk menjaga keselamatan agar warga di sekitar Telaga Sarangan terhindar dari mara bahaya dan bencana.

Sebelum prosesi Larung Sesaji, ada sejumlah prosesi yang dilewati. Yakni, diawalinya dengan kirab tumpeng Gono Bahu. Selama dalam kirab tumpeng Gono Bahu ini diiringi dengan pasukan berkuda serta barisan putera-puteri dengan berpakaian mataraman. Setelah itu pembacaan doa yang dilakukan oleh sesepuh Kelurahan Sarangan dan diteruskan penyerahan tumpeng beserta ubo rampe kepada Bupati Sumantri.

Setelah itu, pembawa sesaji tumpeng Gono Bahu lengkap dengan hasil bumi berupa sayur mayur dan buah-buahan dinaikkan perahu dan dibawa menuju ke tengah telaga. Puluhan perahu yang dinaiki seluruh Muspida Magetan beserta awak media mengikuti dua perahu yang membawa tumpeng untuk dilarung di tengah telaga Sarangan.

Tak urung, karena perahu berjalan bersamaan, air telaga yang semula tenang tiba-tiba berombak dan menerpa perahu-perahu itu. “Ini merupakan puncak acara bersih desa yang di lakukan oleh warga desa Kelurahan Sarangan,” kata Bupati Sumantri.

Menurutnya, tradisi larung sesaji ini merupakan dalam rangka bersih desa warga Kelurahan Sarangan. Yang setiap tahun, lanjut Sumantri, dilaksanakan pada Bulan Ruwah hari Jumat Pon, “Namun prosesinya dilakukan Hari Minggu (15/7) ini,” jelas Sumantri.

Dijelaskan Sumantri, tradisi ini juga merupakan sebuah langkah untuk melestarikan budaya. “Kami sengaja mengemas semenarik mungkin agar menarik wisatawan,” paparnya.

Perahu Sepi Peminat

Meski Bupati Sumantri menyatakan wisatawan Telaga Sarangan mengalami kenaikan hingga 15 persen, namun tidak demikian bagi Prianto (34), tukang perahu yang biasa beroperasi di Telaga Sarangan itu. Rejeki belum menghampiri sopir perahu yang biasa mangkal di pinggir Telaga Sarangan. Pasalnya, dalam kurun waktu tahun 2012 ini justru wisatawan sekarang jarang yang naik perahu. “Meski hari liburan sekalipun, sekarang ini saat yang ramai hanya saat lebaran saja,” ujarnya kepada MK, Minggu (15/7).

Prianto biasa mengantar pengunjung atau wisatawan untuk berkeliling telaga dengan menggunakan perahunya. Menurutnya, Dinas Pariwisata Magetan belum membawa perubahan bagi pengusaha perahu, “Paling banter, setiap hari saya melayani wisatawan dua kali untuk berkeliling telaga,” katanya.

Prianto begitupun rekannya yang lain berharap agar Pemkab Magetan membantu memberikan solusi agar para sopir perahu ini tidak kesepian peminat. Mon.

Harga Daging dan Ayam di Magetan Melonjak

MAGETAN- Sepekan menjelang bulan Ramadhan, harga daging dan ayam dipasaran di wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur mulai melonjak. Kenaikan harga daging dan ayam cukup signifikan antara Rp 10 ribu - Rp 15 ribu per kilogram.

"Harga daging rawon (koyoran) sebelumnya cuma Rp 50 ribu - Rp 55 ribu, sekarang mencapai Rp 65 ribu per kilogram,"kata Bu Djoko pemilik warung rawon depan Paviliun RSUD dr Sayidiman, Magetan, kepada Surya, Senin (16/7/2012).

Hal yang sama juga dikatakan Asmar Multy koordinator rumah makan Padang Kabupaten Magetan, membenarkan harga daging saat ini mulai beranjak naik, dan kenaikannya lebih dari Rp 15 ribu - Rp 20 ribu.

"Daging has (daging kualitas terbaik), sebelumnya hanya Rp 60 ribu per kilogram, saat ini sampai Rp 75 ribu - Rp 80 ribu,"kata Asmar, sambil mengatakan dengan kenaikan harga daging ini, umumnya pemilik rumah makan Padang jadi kebingungan untuk menjualnya.

Karena, daging merupakan bahan pokok isian masakan rendang Padang yang kesohor itu.
Sementara kenaikan harga daging ayam, konon karena pengaruh permintaan yang meningkat. Sedang, produk yang dihasilakan peternak tetap.

"Kita memang tidak menambah, benih ayam. Karena kita takut, dengan menabah benih, permintaan sepi, seperti tahun lalu,"kata Maksum Choiri, pemilik peternakan ayam pedaging warga Desa Tamanarum, Kecamatan Parang, kabupaten Magetan kepada Surya, Senin (16/7/2012).

Saat ini, lanjut Maksum, daging ayam dipasaran mencapai Rp 29 ribu per kilogram.


Sumber : Tribunnews.com


Ibu Pembunuh Anak Kandung, Diperiksa Psikiater

MAGETAN -- Petugas Kepolisian Resor (Polres) Magetan, Jawa Timur, akan menjerat ibu pembunuh anak kandungnya sendiri, Sriatun (35 tahun) warga Desa Lemahbang, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, dengan pasal berlapis. Namun, sebelumnya, kepolisian pun bakal memeriksa kejiwaan tersangka oleh psikiater.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Magetan, AKBP Agus Santosa, mengatakan, status pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan. "Perbuatan tersangka dinilai memenuhi unsur dalam pasal 44 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pembunuhan," ujar AKBP Agus Satosa di Magetan, Sabtu (14/7).

Menurut dia, meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, penyidik Polres Magetan masih membutuhkan bantuan psikiater karena tersangka selama ini dikenal memiliki riwayat gangguan jiwa. Saat diperiksa petugas, tersangka masih bisa menjawab pertanyaan petugas. Hasil pemeriksaan psikiater nantinya juga akan menjadi bahan pertimbangan apakah penyidikan dilanjutkan atau tidak.

"Pemeriksaan psikiater akan menentukan apakah tersangka memang mengalami gangguan jiwa atau tidak," kata Kapolres Magetan, lebih lanjut. Ia menjelaskan, nantinya Polres Magetan akan mendatangkan psikiater dari Kota Madiun.
Sriatun diduga mengalami gangguan jiwa. Dia telah menghabisi nyawa anak perempuan semata wayangnya, Nayla Ramadani (4 tahun), dengan menggunakan alat sabit untuk menggorok leher korban di rumahnya, pada Kamis (12/7). Tewasnya Nayla pertama kali diketahui ayahnya, Sujarwo, usai ia bekerja membetulkan rumah tetangganya. Saat Sujarwo pulang, pintu rumahnya dalam kondisi tertutup.

Setelah dibuka, Sujarwo langsung histeris melihat anaknya tertelungkup bersimbah darah di lantai rumah. Leher bagian belakang atau tengkuk korban mengalami luka terbuka. Dari lokasi kejadian, polisi berhasil menemukan barang bukti berupa sabit.

Paman Sriatun, Mardiono, mengatakan, Sriatun memang diketahui mengalami gangguan jiwa sejak remaja. Penyakit itu kadang-kandang kambuh. Meski mengalami gangguan jiwa, Sriatun tidak pernah marah atau melukai orang lain.

Sumber : Antara

'Plesir', Gedung Dewan Semampring

Di unggah oleh Unknown pada Kamis, 28 Juni 2012 | 15.30

Magetan—Disaat banyaknya persoalan yang belum terselesaikan, seluruh anggota beserta ketua DPRD Magetan justru memilih ngelencer ke luar kota. Akibatnya, gedung megah ini tampak sunyi semampring layaknya kuburan. Empat ruangan komisi, yakni Komisi A, Komisi B, Komisi C, dan Komisi D terlihat kosong, Rabu (27/6).

Sekretaris DPRD Magetan, Iswahyudi Yulianto, menjelaskan para anggota dewan itu melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Jakarta dan Bandung. “Sejak hari Senin (25/6) dan kembali hari ini, Rabu (27/6),” kata Iswahyudi Yulianto, Rabu (27/6).

Ia menjelaskan, komisi A melakukan kunker ke Dirjen Pembinaan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Dirjen Depsosnakertrans di Jakarta, dalam rangka konsultasi terkait Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2011/2012 dan bantuan untuk Kabupaten Magetan.

Komisi B dan Komisi C kunker ke Pemkot dan DPRD Bandung, untuk konsultasi dan koordinasi tentang penataan pasar tradisional dan pembinaan industri kecil/kuliner dan terkait dengan Jamkesda.

Komisi D ke BAPPENAS RI dan Kementrian Perhubungan RI, untuk konsultasi mengenai program-program bantuan pemerintahan pusat yang akan dialokasikan ke Kabupaten Magetan serta ke Kemenhub RI terkait Perda Inisiatif DPRD Magetan tentang Parkir.

Dari kegiatan itu anggaran atau uang rakyat yang tersedot cukup besar, bahkan mencapai ratusan juta rupiah. Informasi yang berhasil digali MK, dalam acara plesiran selama 3 hari itu per masing-masing anggota dewan mendapat dua pos alokasi anggaran. Yaitu at cost (selaras dengan klaim nominal) dan langsam (diberikan utuh). Khusus at cost, direalisasikan untuk penginapan dan transportasi. Nominalnya sekitar Rp 2 juta. Baik untuk penginapan maupun transportasinya.

Sedangkan langsam, diberikan untuk biaya harian. Yakni untuk sangu termasuk makan Rp 950 ribu per hari (Rp 2.850.000 jika tiga hari) serta transportasi lokal Rp 500 ribu per hari (Rp 1,5 juta jika tiga hari). Jika ditotal, per anggota dewan menerima anggaran dari hasil keringat rakyat lebih dari Rp 8 juta. Jumlah tersebut dikalikan 45 jumlah anggota dewan yang berangkat.


Sumber : Magetankita.com


Penipu Amatiran Dicokok di Rumah Pacar

Magetan—Sugiman, warga Desa Kalangketi, Kecamatan Sukomoro, Magetan harus berurusan dengan polisi setelah melakukan penipuan. Ironisnya, penangkapan pria 30 tahun ini dilakukan di rumah pacarnya di kawasan Desa Ngiliran Kecamatan Panekan, Selasa (26/6).

Informasi yang berhasil digali MK, sebelumnya, pada hari Senin (25/6) Sugiman melakukan penipuan terhadap Aditya Ramadani (14), yang masih tetangganya sendiri.

Saat itu, Sugiman sedang nongkrong di perempatan Desa Kalangketi, Kecamatan Sukomoro. Tak seberapa lama, Aditya Ramadani melintas dengan sepeda motor matiknya, Yamaha Mio nopol AE 5985 PT, ‘’Saat itu, tersangka meminta pada korban supaya diantar ke rumah kerabatnya di Panekan,’’ terang Kasubbag Humas Polres Magetan AKP Santoso, Rabu (27/6).

Saat keduanya melaju, hingga di Dusun Dosi Desa Rejomulyo Panekan, tersangka tiba-tiba meminta berhenti di depan sebuah warung. “Saat itu, korban diberikan uang Rp 1500 dan diminta tersangka membelikan rokok eceran. Saat korban tengah beli rokok, motor matik itu langsung dibawa lari tersangka,’’ terangnya.

Dari keadaan itu, korban langsung melaporkannya ke Polsek Panekan. Hingga akhirnya, sehari kemudian, tepatnya Selasa (26/6) sekitar pukul 10.00, tersangka yang tengah asyik indehoi di rumah sang pacar di kawasan Desa Ngliliran, Kecamatan Panekan berhasil terendus ditangkap petugas dari jajaran Polsek Panekan.

Saat ditangkap, tersangka sudah mengganti nopol sepeda motor matik milik Aditya tersebut. Yakni dari AE 5985 PT menjadi AE 3400 PK. Termasuk kondisinya yang sudah dipereteli.

AKP Santoso menambahkan TSK bakal dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman maksimal penjara empat tahun.

Sumber : Magetankita.com


Tiga Dosen Undar Dilaporkan Polisi

Tiga dosen Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, dilaporkan ke polisi oleh dua alumninya, M Bahrul Ulum (20), warga Sidomulyo, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, dan Agung (25), warga Jonggrang, Kec. Barat, Magetan, karena menahan ijazah mereka.
Kapolsekta Jombang, AKP Didit Prihantoro dikonfirmasi, Kamis (28/6), mengatakan, tiga dosen Undar yang dilaporkan adalah Ali Sukamtono, Mashuda Syahid serta Romlan Prasodjo.
Menurut Bahrul Ulum, dia nekat melaporkan tiga mantan dosennya itu karena ijazah mereka ditahan dan tidak dikembalikan setelah dia selesai melegalisir ijazahnya di Undar. Akibatnya, dia kehilangan kesempatan diterima menjadi karyawan di sebuah bank.

Sebelum ijazahnya ditahan, Sabtu (23/6) dia datang ke Undar minta legalisir ijazah S-1nya ke kantor Fakultas Ekonomi (versi Rektor Lukman Hakim) untuk menemui Asnawi, Dekan Fakultas tersebut. Saat itu Asnawi tidak di kantor karena sedang umroh.
Saat meninggalkan fakultas, Bahrul bertemu dengan Eni, staf tata usaha dari Fakultas Ekonomi (versi Rektor Hj Ma'murotus Sa'diyah). Bahrul kemudian menyerahkan berkas legalisir tersebut ke TU. Selain itu, Bahrul juga menyerahkan ijazah asli beserta transkrip nilai.
Keesokan harinya, Bahrul kembali ke Undar untuk mengambil legalisir itu. Namun, ia gagal membawa pulang ijazah asli maupun legalisirnya, karena dikatakan ijazahnya masih diteliti oleh tim fakultas dan Bahrul diminta kembali, Senin (25/6).

Senin, Bahrul mengambil ijazahnya di Fakultas Ekonomi, dia ditemui Mashuda Syahid, salah satu dosen ekonomi di Undar. Mashuda memberitahu jika ijazah miliknya disita Polda Jatim ditengarai palsu. Selain itu, pihak fakultas tidak akan mengembalikan ijazah itu ke Bahrul.
Merasa dirugikan, Bahrul melaporkan tiga dosen Undar ke polisi. Tiga jam sebelum Bahrul Ulum lapor, Agung (25), warga Desa Jonggrang, Kec. Barat, Magetan mengaku alumnus Undar juga melaporkan kasus yang sama seperti dialami Bahrul.

Sumber : Surabayapost.co.id

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Lensa Magetan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Editing by Complong
Proudly powered by Blogger